Terkait Gunung Agung, Bandara Ngurah Rai Bentuk Pusat Operasi Kedaruratan 24 Jam

Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung yang ditandai dengan letusan freatik pada Selasa (21/11) kemarin menjadi perhatian serius sejumlah pihak.

Selain dipantau secara seksama oleh PVMBG, status Gunung Agung masih ditetapkan pada level III atau siaga.

Kendati demikian, Angkasa Pura I sebagai pengelola Bandara Ngurah Rai juga memastikan apabila kemungkinan terburuk aktivitas Gunung Agung terjadi, skema yang digunakan masih sama seperti rencana semula ketika penetapan status awas.

Gunung Agung saat mengeluarkan asap, Selasa (21/11). Kondisi Gunung Agung terlihat dari Jalan Veteran, Kelurahan Padang Kerta, Kecamatan Karangasem.
Gunung Agung saat mengeluarkan asap, Selasa (21/11). Kondisi Gunung Agung terlihat dari Jalan Veteran, Kelurahan Padang Kerta, Kecamatan Karangasem. (Tribun Bali/Saiful Rohim)

Artinya, kendati misalnya, Gunung Agung mengalami erupsi magmatik, bandara tidak akan ditutup selama sebaran abu vulkanik tidak mengarah ke bandara.

“Jadi memang dengan adanya letusan freatik di Gunung Agung, pada prinsipnya kami sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Pukul 18.45 Wita kemarin (21/11) kami juga mengaktifkan emergency operational center (EOC),” ujar Kepala Humas Bandara Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim.

Dijelaskan olehnya, EOC sebetulnya diaktifkan dalam situasi emergency.

Meskipun secara faktual letusan freatik Gunung Agung pada Selasa (21/11) kemarin masih belum cukup genting mengganggu aktivitas penerbangan, tetapi pengaktifan EOC itu sebagai bentuk perhatian atau atensi khusus dari pihak bandara.

Penampakan Gunung Agung nampak pada sore hari dari Pos Pantau Gunung Api Agung Rabu,  (22/11) Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 500-800 m di atas puncak kawah.
Asap condong mengarah ke timur dari kawah puncak.
Penampakan Gunung Agung nampak pada sore hari dari Pos Pantau Gunung Api Agung Rabu, (22/11) Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 500-800 m di atas puncak kawah. Asap condong mengarah ke timur dari kawah puncak. (Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)

EOC, kata Arie, menjadi semacam alarm agar seluruh stake holder atau mitra bandara tetap menjalankan tugasnya sesuai SOP yang ditentukan.

“Mengenai bandara alternatif juga sudah ada apabila aktivitas penerbangan di Ngurah Rai terganggu. Skemanya masih sama seperti yang ditetapkan dulu,” imbuh Arie.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Bali, Sujabar mengatakan saat ini angin berhembus dari barat ke timur.

Atau, dalam istilah nelayan biasa disebut musim barat. Bila demikian, bisa diduga apabila terjadi hujan abu, sebaran abu vulkanis tidak akan mengarah ke posisi bandara.

Secara umum, kata Sujabar, bulan November hingga Maret hembusan angin memang dari barat ke timur. Apakah ada kemungkinan arah angin berubah?

“Mungkin saja. Karena dinamika atmosfer sifatnya sangat dinamis, sehingga bisa berubah. Tetapi, dominan atau kecenderungan umumnya dari arah barat ke timur,” ujar Sujabar.

Untuk diketahui, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan RI, telah menggelar rapat dengan Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Ngurah Rai terkait status Awas Gunung Agung pada 24 September 2017 lalu.

Dalam rapat tersebut dibahas terkait pengalihan penerbangan yang mungkin terjadi bila penutupan Bandara Ngurah Rai dilakukan.

Pihak Ditjen Perhubungan Udara menyiapkan sembilan bandara alternatif. Antara lain, Lombok, Surabaya, Banyuwangi, Makassar, Balikpapan, Labuan Bajo, Solo, Manado, dan Ambon.

Untuk mengantisipasi terjadinya penutupan bandara, Ditjen Perhubungan Udara juga bekerjasama dengan Ditjen Perhubungan Darat.

Kepala Balai Pengelola Tansportasi Darat Wilayah Bali dan NTB, Agung Hartono waktu itu mengatakan pihaknya sudah menyiapkan 300 bus apabila diperlukan pengalihan jalur dari udara ke jalur darat atau laut. Dikatakan olehnya, persiapan bus tersebut sudah diatur oleh Organisasi Angkutan Darat (Organda). (*)

 

Sumber berita : http://bali.tribunnews.com/2017/11/22/terkait-gunung-agung-bandara-ngurah-rai-bentuk-pusat-operasi-kedaruratan-24-jam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *