Bandara Samarinda Baru dioperasikan Maret 2018

Warga Samarinda dan sekitarnya bisa merasa lega, pasalnya mereka akan segera dapat menikmati terminal Bandara Samarinda Baru (BSB). Bandara yang direncanakan akan dioperasikan pada awal tahun 2018 mendatang, kini tengah dilakukan pembenahan dan persiapan. Setelah selesai pengerjaan landasan pacu Bandara Samarinda Baru (BSB) pada Desember 2017 mendatang, bola terkait bagaimana kelanjutan pengoperasional Bandara Samarinda Baru kini berpindah ke Kemenhub diwakili UPBU Temindung Samarinda. Hal ini mengingat sudah dilakukannya pemindahan kewenangan BSB dari Pemprov ke Kemenhub.

“Untuk sementara, ketika runway sudah selesai dikerjakan Pemprov di Desember 2017, kami akan pindahkan penerbangan-penerbangan yang ada di Temindung ke BSB. Ada Kalstar, Susi Air, serta Dimonim Air. Frekuensi flight per hari, per maskapai bisa 6 flight (penerbangan)” ujar Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Temindung, Usdek Luthermand.

Kalstar misalnya, ada 6 flight, seperti ke SMD-BPP, SMD-Berau, dan SMD-Melak. Memang, untuk penerbangan awal di BSB, masih akan di wilayah Kaltim dahulu,” ucap Usdek.

Lantas, kapan masyarakat bisa melakukan penerbangan nasional, semacam Samarinda-Yogya, atau Samarinda-Jakarta, melalui maskapai besar seperti Garuda dan Sriwijaya, Usdek memaparkan ada beberapa langkah yang harus dilakukan lebih dahulu untuk itu.

“Sebelum itu, kami akan declare (umumkan) dahulu, jika BSB sudah bisa digunakan untuk penerbangan nasional. Kapan akan declare, diperkirakan sekitar Maret 2018. Kenapa Maret, karena usai runway selesai, tim dari Kemehub akan mengecek dahulu kondisi runway serta terminal di BSB selama 3 bulan. Jika oke, maka bisa di-declare,” katanya.

Lebih lanjut, bagaimana pembagian flight dengan bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) Balikpapan, dikatakannya, akan dilakukan kajian dari Kemenhub sebelum akhirnya diputuskan.

Apakah ini tak bertabrakan dengan kondisi penerbangan di SAMS, dikatakannya, Kemenhub akan berkoordinasi dengan pihak AP I, selaku pengelola SAMS, agar tidak terjadi saling memangsa pasar masing-masing.

“Untuk rute baru di BSB, kami akan lihat dahulu. Semua kembali pada permintaan. Jika pangsa pasar besar di BSB, pasti akan banyak maskapai yang ingin masuk. Terutama penerbangan antarpulau, Kalimantan-Sulawesi, Kalimantan-Jawa, atau Kalimantan-Papua. Pemerintah pusat pasti akan mengkaji, bagaimana kedua bandara ini bisa tetap berjalan eksis, tanpa mematikan pasar satu sama lain. Tetapi, memang sesuaiwilayah, jika BSB operasi, akan ada pengurangan penumpang di SAMS Balikpapan. Ada penurunan, tapi tak mematikan,” katanya.

Ia pun memberi contoh, seperti yang terjadi di Soekarno Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, dimana kedua bandara itu tetap saling mengisi meski lokasi berdekatan.

“Seperti Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdana Kusuma di Jakarta. Keduanya kan internasional. Tetapi tak mematikan. Jadi, jika ada permasalahan di Halim Perdana Kusuma, maka opsi terbang bisa dilakukan ke Soetta. Kami berharap juga demikian di BSB dan SAMS. Bisa saling mengisi. Kalau secara penumpang turun, itu wajar, karena ada dua bandara, tetapi keduanya masih tetap eksis,” kata Usdek. (*)

 

Sumber berita : kaltim.tribunews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *