Bandara Juanda akan tutup sementara jika Gunung Agung meletus

 

 

Sidoarjo – Suasana di Bandara Juanda, Sidoarjo, hingga kemarin masih terlihat normal. Namun, tidak tertutup kemungkinan Bandara Juanda akan terkena dampak abu vulkanik jika Gunung Agung meletus.

Seperti ditayangkan Liputan6 Pagi SCTV, Rabu (27/9/2017), pengelola bandara tidak mau mengambil risiko jika sewaktu-waktu abu vulkanik Gunung Agung mengarah ke Jawa Timur.

Jika terjadi, Bandara Juanda akan tutup sementara dan menghentikan semua penerbangan karena abu vulkanik sangat berbahaya untuk mesin pesawat. Beberapa waktu lalu, Bandara Juanda juga sempat ditutup saat Gunung Raung, Bondowoso, meletus.

 

 

 

Sumber berita : http://news.liputan6.com/read/3109096/jika-status-gunung-agung-naik-bandara-juanda-akan-tutup-sementara

Dipersiapkan 10 bandara alternatif jika Gunung Agung meletus

Data tersebut dirumuskan berdasarkan akumulasi pesawat dan penumpang yang akan meninggalkan Bali lewat Bandara Internasional Ngurah Rai.

“Kita lakukan persiapan evakuasi. Kita menyiapkan apabila pesawat tidak bisa landing di Ngurah Rai. Kita sudah siapkan satu SOP. Kita sudah menyiapkan 10 bandara, masing-masing bandara punya kapasitas bahkan round dan menginap. Termasuk Bandara Soekarno Hatta,” ujar Budi di GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Kamis (28/9/2017).

Menurut Menhub, pihaknya akan memproyeksikan sebanyak 30 persen warga di Bandara Ngurah Rai dikirim kembali ke rumah masing-masing lantaran memang warga asli Bali. Selebihnya akan dibawa menggunakan jakur darat dan laut.

“Dua pertiganya sekitar 3.000 orang akan didistribusikan. Pertama, paling dekat ke Banyuwangi. Kan kira-kira empat sampai lima jam sampai dari Banyuwangi. Lalu ke tempat lain, kedua ke Praya (Lombok), karena ke Praya akan lebih jauh, sampai enam jam. Karena kalau internasional tidak ke Banyuwangi, rencana ketiga ke Surabaya,” jelas Budi.

Kementerian Perhubungan sendiri menyiapkan 100 armada bus untuk mengantisipasi perihal tersebut. Selain untuk menerbangkan penumpang dari Bali, ketiga bandara itu juga jadi tempat alternatif pendaratan saat Ngurah Rai ditutup.

Masih ada tujuh bandara alternatif lain seperti Jakarta, Makassar, Balikpapan, Solo, Ambon, Manado, dan Kupang.

“Kami prihatin atas kejadian ini. Semoga Gunung Agung tidak erupsi besar,” Budi menandaskan.

 

Sumber berita : http://news.liputan6.com/read/3110797/bandara-ngurah-rai-siapkan-evakuasi-jika-gunung-agung-meletus

 

Apa yang terjadi jika beban listrik tidak seimbang?

Pendahuluan

Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut  adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah. Akibat ketidakseimbangan beban tersebut  muncullah arus di netral trafo. Arus yang mengalir di netral trafo ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah.

Ketidakseimbangan Beban

Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah
suatu keadaan di mana :

-Ketiga vektor arus / tegangan sama besar.

-Ketiga vektor saling membentuk sudut 120º satu sama lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan di mana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi.  Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada 3 yaitu:

– Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.

– Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120º satu sama lain.

– Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.

Gambar (a) menunjukkan vektor diagram arus dalam keadaan seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS , IT) adalah sama dengan nol sehingga tidak muncul arus netral (I). Sedangkan pada Gambar (b) menunjukkan Nvektor diagram arus yang tidak seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS, IT ) tidak sama dengan nol sehingga muncul sebuah besaran yaitu arus netral (IN) yang besarnya bergantung dari seberapa besar faktor ketidakseimbangannya.

Akibat Ketidakseimbangan Pembebanan Trafo Distribusi

Sebagai akibat dari pembebanan yang tidak seimbang pada trafo maka akan menimbulkan rugi-rugi (losses) energi diantaranya

         1. Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Netral
Rugi ini terjadi karena ada arus yang lumayan cukup besar mengalir penghantar netral sebagai akibat dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa pada sisi sekunder trafo (fasa R, fasa S, fasa T). Arus yang mengalir pada penghantar netral trafo ini menyebabkan losses (rugi-rugi). Losses pada penghantar netral trafo ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

2. Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Grounding

Ketidakseimbangan beban juga mengakibatkan adanya arus yang mengalir pada penghantar grounding (pentanahan), Besarnya daya yang hilang akibat arus grounding ini adalah sebagai berikut:

Menentukan Besaran Ketidakseimbangan Beban pada tiap Fasa (Analisa Pembebanan)

Referensi : “Pengaruh Ketidakseimbangan Beban Terhadap Arus Netral dan Losses pada Trafo Distribusi” Julius S, Tabrani Machmudsyah, Yanuar Isnanto

 

Sumber artikel : https://electricdot.wordpress.com/2012/10/15/pengaruh-ketidakseimbangan-pembebanan-pada-trafo-distribusi/

Macam-macam elektroda pentanahan

Suatu sistem pentanahan menjadi  bagian esensial  dari sistem tenaga listrik untuk mencegah potensi  bahaya  listrik terhada manusia, peralatan maupun sistem pelayanannya. Terdapat 3 macam elekroda  pentanahan yaitu bentuk batang (rod), bentuk pita (kisi-kisi), dan bentuk plat.

  1. Elektroda Batang (Rod)

Elektroda batang  yaitu elektroda dari pipa atau besi baja profil yang dipancangkan ke dalam tanah. Elektroda ini merupakan elektroda yang  pertama kali digunakan dan teori-teori berawal dari elektroda jenis ini. Elektroda ini banyak digunakan pada gardu induk. Secara teknis, elektroda jenis ini mudah pemasangannya dan tidak memerlukan lahan yang luas. Elektroda batang biasanya ditanam dengan kedalaman yang cukup dalam.

Rumus tahanan pentanahan elektroda batang tunggal:

  1. Elektroda Pita (kisi-kisi)

Elektroda pita merupakan elektroda yang terbuat dari hantaran berbentuk pita atau berpenampang bulat atau hantaran pilin yang pada umumnya ditanam secara dangkal. Pemancangan dilakukan secara vertikal dengan menanam batang hantaran secara  horizontal (mendatar) dan dangkal.

GAMBAR

Rumus tahanan pentanahan untuk elektroda pita

RUMUS

  1. Elektroda Plat

Elektroda plat merupakan elektroda dari bahan pelat logam (utuh atau berlubang) atau dari kawat kasa. Pada umumnya elektroda ini ditanam cukup dalam. Elektroda ini digunakan apabila diinginkan tahanan pentanahan yang kecil dan yang sulit diperoleh dengan menggunakan jenis-jenis elektroda yang lain.

Rumus tahanan pentanahan untuk elektroda bentuk plat:

 

Sumber artikel : https://electricdot.wordpress.com/2012/12/23/jenis-jenis-elektroda-pentanahan/

Tipe Jaringan Distribusi Tegangan 20 kV

Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer 20kV) dapat dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan hantaran penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop), Jaringan Spindel dan Sistem Gugus atau Kluster.

A.  Jaringan Radial

Sistem distribusi dengan pola Radial seperti Gambar di bawah ini Adalah sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini  terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk konsumen. Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen dipasang. Bisa dalam bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan dari sistem ini adalah sistem ini tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan sistem yang lain.

Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan  sistem  lainnya. Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur  utama yang menyuplai gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama tersebut mengalami gangguan, maka seluruh gardu akan ikut padam. Kerugian lain yaitu mutu tegangan pada gardu distribusi yang paling  ujung kurang baik, hal ini dikarenakan jatuh tegangan terbesar ada diujung saluran.

B.  Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)

Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar di bawah ini digunakan untuk pelanggan penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan lainlain). Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan  tambahan Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch,  setiap penyulangterkoneksi ke gardu  pelanggan khusus tersebut sehingga  bila salah satu penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di pindah ke penyulang lain.

C.  Jaringan Lingkar (Loop)

Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti Gambar di bawa ini dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk, sehingga dengan demikian

D.  Jaringan Spindel

Sistem Spindel seperti pada Gambar di bawah ini adalah suatu pola kombinasi jaringan dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa penyulang (feeder) yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH).

Pada sebuah spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola Spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah (JTM) yang menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Namun pada pengoperasiannya, sistem Spindel berfungsi sebagai sistem Radial. Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi yang berfungsi untuk mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen tegangan rendah (TR) atau tegangan menengah (TM).

E.  Sistem Gugus atau Sistem Kluster

Konfigurasi Gugus seperti pada Gambar di bawah ini banyak digunakan untuk kota besar yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi. Dalam sistem ini terdapat Saklar Pemutus Beban, dan penyulang cadangan.

Dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi pada salah satu penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang menggantikan fungsi suplai kekonsumen.

 

Sumber artikel : https://electricdot.wordpress.com/2011/08/16/tipe-tipe-jaringan-distribusi-tegangan-menengah/

Tipe-tipe Jaringan Distribusi Listrik

Ada Beberapa bentuk Sistem Tenaga Listrik Distribusi, yaitu :

Sistem Radial
Merupakan jaringan sistem distribusi primer yang sederhana dan murah biaya investasinya. Pada jaringan ini arus yang paling besar adalah yang paling dekat dengan Gardu Induk. Tipe ini dalam penyaluran energi listrik kurang handal karena bila terjadi gangguan pada penyulang maka akan menyebabkab terjadinya pemadaman pada penyulang tersebut.

Secara Sederhana Sistem Radial Mempunyai Kelebihan dan Kekurangan :
Kelebihan :
– Lebih Murah Biaya Investasinya
– Lebih Sederhana Pengendalian dan Sistemnya

Kekurangan :
– Kualitas Listrik Kurang Baik
– Jika Mengalami gangguan pada satu titik maka titik yang lain tidak akan teraliri listrik

Sistem Ring/Loop
Tipe ini merupakan jaringan distribusi primer, gabungan dari dua tipe jaringan radial dimana ujung kedua jaringan dipasang PMT. Pada keadaan normal tipe ini bekerja secara radial dan pada saat terjadi gangguan PMT dapat dioperasikan sehingga gangguan dapat terlokalisir. Tipe ini lebih handal dalam penyaluran tenaga listrik dibandingkan tipe radial namun biaya investasi lebih mahal.

Secara Sederhana Sistem Loop Mempunyai Kelebihan dan Kekurangan :
Kelebihan :
– Kualitas Listrik Lebih Baik/Handal.
– Jika Mengalami gangguan pada satu titik maka titik yang lain dapat di Aliri listrik dari PMT yang Lain.

Kekurangan :

– Lebih Mahal  Biaya Investasinya.
– Lebih Rumit Pengendalian dan Sistemnya.

Sistem Spindle
Jaringan ini merupakan jaringan distribusi primer gabungan dari struktur radial yang ujung-ujungnya dapat disatukan pada gardu hubungdan terdapat penyulang ekspres. Penyulang ekspres (express feeder) ini harus selalu dalam keadaan bertegangan, dan siap terus menerus untuk menjamin bekerjanya system dalam menyalurkan energi listrik ke beban pada saat terjadi gangguan atau pemeliharaan. Dalam keadaan normal tipe ini beroperasi secara radial.

Sistem Mesh
Struktur jaringan distribusi primer ini dibentuk dari beberapa Gardu Induk yang saling dihubungkan sehingga daya beban disuplai oleh lebih dari satu gardu Induk dibandingkan dengan dua tipe sebelumnya, tipe ini lebih handal dan biaya investasi lebih mahal.
Sumber artikel : http://tentanglistrikkita.blogspot.co.id/2014/05/sistem-tenaga-listrik-distribusi.html