Power Felt

Pada sebuah teknologi, selalu tidak terlepas dari sebuah catu daya. Catu daya bisa berasal dari catu daya utama dan catu daya cadangan. Umumnya, catu daya cadangan berasal dari baterai untuk kapasitas kecil, baik itu berasal dari solar cell maupun angin ataupun dari metode lain.

Masalah catu daya baterai ini sering menimbulkan kendala dikarenakan kapasitasnya yang terbatas. Namun untuk energi yang sifatnya kecil tampaknya kini hal tersebut sudah menemukan solusi. Sebuah teknologi baru bernama Power Felt diyakini bisa mengubah panas tubuh menjadi arus listrik, sehingga baterai bisa diisi ulang kapan saja.

Power Felt ini dikembangkan oleh para peneliti Wake Forest University. Teknologi itu sendiri terbuat dari carbon nanotube (batang karbon berukuran sangat kecil) dan dikunci dalam serat plastik fleksibel yang dibuat seperti kain. Cara kerja teknologi itu menggunakan perbedaan antara suhu ruangan dan suhu tubuh untuk menciptakan energi.

Para peneliti mengatakan, Power Felt bisa diterapkan pada banyak hal untuk menghasilkan energi listrik. Itu juga akan bekerja maksimal apabila diletakkan di tempat atau bagian tubuh yang lebih cepat panas. Misalnya dipasang pada kursi mobil, perangkat olahraga atau pakaian.

Namun mahalnya biaya untuk teknologi tersebut membuatnya masih sulit digunakan untuk produk konsumer. Sejauh ini juga Power Felt hanya bisa menghasilkan sumber listrik yang relatif kecil.

“Thermoelektrik adalah teknologi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Tapi ada banyak peluang dalam teknologi ini,” ujar Covey Hewitt, peneliti sekaligus lulusan dari Wake Forest University.

Akan tetapi bukan tidak mungkin teknologi ini untuk dikembangkan, bisa jadi dikemudian hari, teknologi ini bisa menjadi sesuatu yang dapat diandalkan dan menjadi energi yang dapat dilipatgandakan dengan memanfaatkan panas selain panas tubuh.

Kita tunggu perkembangannya

N219 Sukses, N245 Menanti
Setelah N219, PTDI Bakal Garap Pesawat N245

Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) telah sukses melakukan uji terbang pesawat N219 beberapa waktu lalu. Pesawat tersebut digunakan untuk menerbangi daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Selanjutnya, PTDI juga akan memproduksi pesawat N245 seiring sudah masuknya ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2017.

Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo mengungkapkan, untuk memproduksi pesawat N245, PTDI masih menunggu keseriusan pemerintah untuk membantu memulai produksi pesawat buatan Bandung tersebut. Untuk memproduksi pesawat tersebut, PTDI menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

“N245 kita masih ingin lihat appetite-nya pemerintah. LAPAN memang sudah menjadi program mereka setelah N219,” kata Arie saat berbincang dengan detikFinance, Senin (28/8/2017).

Jika ada campur tangan pemerintah dalam hal pendanaan, lanjut Arie, maka bisa langsung dilakukan produksi. Sehingga pada 2019 mendatang bisa diproduksi prototipenya.

“Kalau mau mulai mendanai 2018, kita bisa mulai enginering 2018 kemudian bikin prototipe 2019. At the same time N219 masuk production line,” kata Arie.

Semakin cepat dimulainya produksi N219, sekaligus dapat menjadi sarana regenerasi para teknisi PTDI setelah menggarap N219 beberapa waktu lalu.

“Sangat membantu kesinambungan enginering saya, selesai N219 mulai lagi produk baru. Program regenereasi enginer anak-anak muda di produksi bisa terjadi lebih berkesinambungan,” ujar Arie.

Untuk membuat 3 prototipe pesawat N245, sedikitnya dibutuhkan investasi senilai US$ 200 juta.

“Kita udah propose ke pemerintah US$ 200 juta untuk N245. Itu bikin 3 prototipe,” tutur Arie. (ara/mkj)

 

Sumber berita : detik.com

Muscab III IAEETA DPC Cengkareng

IAEETA merupakan satu-satunya organisasi profesi teknisi penerbangan di Indonesia. Salah satu misi dari organisasi ini sesuai yang tercantum dalam AD ART nya adalah “Ikut serta dalam meningkatkan kompetensi teknisi Elektronika dan Listrik Penerbangan Indonesia yang profesional sebagai wujud kontribusi dalam pembangunan Nasional”. Dalam hal untuk mewujudkan misi ini, IAEETA terus bergerak dan memacu organisasi agar terus tumbuh dan berkembang menjadi bagian penting dalam proses perwujudan penerbangan nasional yang aman dan nyaman. Kegiatan-kegiatan organisasi seperti Musyawarah Nasional, Musyawarah Cabang maupun Rapat Kerja sudah menjadi rutinitas dalam menggerakkan organisasi ini, selain melaksanakan program kerja yang sudah dicanangkan.

IAEETA DPC Cengkareng merupakan DPC terbesar dari seluruh DPC yang dimiliki oleh organisasi ini. Keanggotaan DPC Cengkareng meliputi KP PT Angkasa Pura II, KCU Bandara Soekarno-Hatta, Otoritas Bandara Wil I dan LPPNPI Cabang JATS. Sabtu, 26 Agustus 2017 dilaksanakan perhelatan Musyawarah Cabang ke III, turut hadir dalam acara tersebut DPP IAEETA, Maintenace Executive Manager Bandara Soekarno Hatta, GM cabang JATS, Sekarpura II, perwakilan dari organisasi di wilayah bandara Soekarno-Hatta.

“Teknisi-teknisi penerbangan adalah tenaga ahli profesional yang menjadi garda terdepan dalam menciptakan keselamatan penerbangan. Mereka harus mendapatkan tunjangan yang layak atas kecakapan tersebut. Saat ini terjadi kesenjangan yang jauh antara teknisi AirNav dan PT Angkasa Pura II”, ujar ketua IAEETA DPC Cengkareng dalam sambutannya.

Sekjend DPP IAEETA menyampaikan, “Seorang teknisi penerbangan tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugas-tugas pokoknya saja, tetapi harus mengisi waktu luangnya untuk meningkatkan kompetensi diri secara mandiri”

Maintenace Executive Manager Bandara Soekarno Hatta berterima kasih atas kerja keras yang telah dilakukan oleh teknisi penerbangan dalam menjaga performa peralatan penerbangan.

Acara Pembukaan Musyawah Cabang ke III dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPP IAEETA dan sangat berharap acara dapat berjalan lancar dan menambah semangat dalam menjalankan organisasi IAEETA.

Sukses untuk IAEETA DPC Cengkareng

 

Skytrain Bandara Soekarno Hatta sudah mulai uji coba
Tampak salah satu gerbong dari skytrain yang akan digunakan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pertengahan tahun 2017. Skytrain dioperasikan untuk mengakomodasi perpindahan penumpang dari satu terminal ke terminal lainnya.

Automated people mover system (APMS) atau kereta tanpa awak di Bandara Soekarno-Hatta mulai diuji coba pada akhir Juli 2017.

Uji coba ini dilaksanakan untuk mengetahui kesiapan infrastruktur serta armada kereta yang digunakan sebelum resmi dioperasikan.

Kereta tanpa awak atau skytrain itu ditargetkan beroperasi pada satu hingga dua bulan ke depan setelah masa uji coba. Adapun uji coba kereta dilakukan dalam satu bulan.

“Kami akan mulai uji coba didampingi perwakilan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sekitar akhir bulan ini atau awal bulan depan,” kata Branch Communication Manager Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho.

Lebih jauh, Pras menyampaikan bahwa uji coba dilakukan untuk mendapatkan data valid mengenai apa yang sudah pas dan hal apa saja yang masih harus dilengkapi.

Pada masa uji coba nanti, dua unit kereta tanpa awak atau satu trainset yang telah dipasang di Bandara Soekarno-Hatta akan dikendalikan terlebih dahulu oleh pengemudi.

Rencananya, ada dua trainset atau empat unit kereta tanpa awak yang akan didatangkan lagi dalam bulan ini.

 Tiga trainset itu akan menjalani uji coba mulai dari Terminal 3 ke Terminal 2 untuk tahap awal, dilanjutkan dengan ke Terminal 1 dan akhirnya ke integrated building yang merupakan tempat bertemunya berbagai moda transportasi, termasuk layanan kereta rel listrik (KRL) bandara.

Skytrain memakai teknologi automated guided transit (AGT) yang merupakan kendaraan pengangkut tanpa pengemudi, terdiri dari beberapa unit dan dijadikan satu rangkaian.

AGT juga menggunakan roda yang berjalan di atas jalur beton dengan roda pengarah tambahan di sisi kiri dan kanan unit kendaraan yang menempel pada dinding beton.

Satu trainset skytrain dapat menampung 176 orang untuk perpindahan penumpang pesawat atau pengunjung bandara dari terminal satu ke terminal lainnya.

Headway skytrain di tiap terminal ditargetkan maksimal lima menit, sedangkan waktu tempuh skytrain dari Terminal 1 menuju integrated building ke Terminal 2, dan Terminal 3 ditetapkan sekitar tujuh menit.

Sumber berita dan foto : kompas.com

BIJB Untuk Geliat Ekonomi Majalengka dan sekitarnya

Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang berlokasi di Kecamatan Kerjati diyakini akan dapat mendorong perekonomian masyarakat, tak hanya di Majalengka tetapi juga daerah sekitarnya.

Keberadaan BIJB yang ditargetkan akan mulai beroperasi tahun depan akan  menjadi daya ungkit peningkatan perekonomian masyarakat.

“Kehadiran BIJB patut kita syukuri karena itu akan menjadi daya ungkit bagi peningkatan perekonomian masyarakat Majalengka,” katanya.

Bupati mengatakan, BIJB menjadi magnet yang mampu menarik para investor datang dan berinvestasi di Kabupaten Majalengka. Hal itu tentu merupakan satu peluang yang harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah dan juga masyarakat.

Pemerintah daerah saat ini, kata bupati, terus melakukan persiapan yang mendukung keberadaan BIJB, diantaranya dengan menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung.

”Saat ini kami juga tengah mengupayakan agar pembangunan embarkasi haji agar segera dibangun,” katanya.

Pembangunan bandara bertaraf internasional tersebut, lanjutnya, juga akan menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan perekonomian di wilayah Cirebon atau Jawa Barat bagian timur.

“Sekarang indikasinya sudah sangat terlihat. Saat ini sudah ada belasan investor yang telah menanamkan modalnya di Kabupaten Majalengka, bahkan sudah banyak pula yang sudah beroperasi dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja,” jelasnya.

Karena itu bupati mengingatkan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri sehingga dapat memanfaatkan berbagai peluang yang akan sangat terbuka dengan hadirnya bandara di Kertajati.

“Jangan sampai masyarakat kita hanya jadi penonton, karenanya mulai sekarang harus mulai dipersiapkan sebaik mungkin untuk dapat menangkap dan memanfaatkan peluang dengan hadirnya BIJB di Bumi Sindangkasih,” tandasnya. (ABR)

Sumber berita : Fajarnews.com

Beberapa Maskapai Mulai Melirik Pesawat N219

n219

Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia ( PT DI) sudah resmi diluncurkan dan tengah menjalani masa uji terbang. Meski belum diproduksi massal, sejumlah maskapai mulai mengajukan penawaran untuk membeli pesawat berteknologi avionik tersebut.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengakui hal tersebut. Namun ia belum menyodorkan kontrak kerja sama lantaran pesawat N219 masih dalam proses penyempurnaan.

“Banyak yang sudah mau beli, cuma balik lagi ya, saya ingin setelah ini (test flight) ya. Tapi saya belum berani sampai mengatakan kontrak. Kontrak ini harus sa

ya yakin dengan pesawatnya. Ini kan masih perlu tes dan perbaikan,” ucap Budi di sela test flight kedua N219 di Bandara Husein Sastranegara, Rabu (22/8/2017) siang.

Tanpa menyebut nama maskapai yang dimaksud, Budi mengatakan, dirinya kerap dihubungi oleh seorang pejabat disalah satu maskapai yang ingin menjadi konsumen pertama N219.

“Tapi ada yang selalu nelepon saya, untuk ingin jadi first costumer, itu ada beberapa airline. Namun yang saya perlukan launching costumer yang mau membeli 50 pesawat,” ucapnya.

Bahkan lanjut Budi, saat ini ada salah satu maskapai yang telah berani memesan 50 unit langsung. Namun ia enggan membocorkan calon pembeli N219 tersebut.

“Ada lah. Enggak boleh ngomong, karena masih negoisasi harga terus ya,” ucapnya sambil tertawa.

Setelah hasil test flight rampung, ia menargetkan memproduksi 24 unit pesawat per tahunnya. Harga pesawat berkapasitas 19 penumpang dibanderol sekitar Rp 81 miliar per unitnya.

“Semua itu target kita dalam 5 tahun ke depan masih dalam negeri, setelah itu kita baru kita ke negara lain. Beberapa sudah calling dari luar negeri untuk pemesanan. Jika tes beres tahun 2018, pada 2019 kita akan produksi tapi paling enam pesawat, kemudian naik 12 pesawat, selama dua tahun baru naik lagi nanti 18 pesawat hingga 24 pesawat,” tutur Budi.

“Jadi 50 pesawat cukup panjang (produksinya) kita juga tanya-tanya (maskapai) ini, mau nunggu gak? Tapi ini target kami untuk membuat 24 pesawat per tahunnya,” tambah dia. (moy).

Sumber dan foto: kompas.com