Bilah Raksasa Masa Depan

Bilah Raksasa yang Bias dan Reaksi Abadi yang Dijauhi

wind-turbine-tower-stairs-edbook2825-59a7a41066feb06347112992.jpg
 Apa yang pertama kali di pikiran anda saat mendengar energi terbarukan ? Kalau saya boleh jujur, kincir angin pertama terlintas di benak saya sewaktu SD yang saat itu masih sering didengar sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Angin) namun sekarang lebih disebut bayu sehingga berubah menjadi PLTB. Tak dapat dipungkiri juga, kebanyakan orang awam mungkin akan berpendapat demikian. PLTB pun menjadi sebuah stereotypeseakan energi ini menjadi energi masa depan di Indonesia, terlebih dengan berbagai poster dan landscape keren yang ada di film-film.
Sumber : Bloomberg
Sumber : Bloomberg
Penerapannya pun makin meningkat tiap tahun dengan dibarengi penurunan energi fosil. Denmark dianggap menjadi sebuah kiblat dalam penerapan energi terbarukan ini selain negara maju lainnya di Eropa seperti Jerman, Norwegia dan Swedia. Dengan berbagai berita dan video mengenai teknologi mereka, netizen seakan terperangah dan berpendapat bahwa energi mereka bebas dari CO2

xxxxxx.jpg
xxxxxx.jpg
Sumber : https://www.electricitymap.org
Sumber : https://www.electricitymap.org
xx.jpg
xx.jpg

Ketiga gambar di atas menunjukkan emisi CO2 yang dihasilkan oleh Denmark, Jerman dan Swedia secara berturut-turut. Terlihat jelas bahwa emisi CO2 dari Swedia (34gr/kW) paling sedikit dibandingkan Jerman (383 gr/kWh) dan Denmark (411 gr/kWh) padahal data beberapa bulan lalu Jerman lebih banyak mengeluarkan emisi dibandingkan dengan Denmark. Sebuah tanda tanya besar karena negara ini sering dipuja-puja dengan kebun kincir anginnya.

Jika ditelusuri lebih lanjut, 74% sumber energi listrik dari Swedia berasal dari energi hidro dan energi nuklir dengan energi angin menyumbang 10% kebutuhan listrik di sana. Hal yang begitu terbalik datang dari Jerman dengan suplai dari PLTB sebesar 16%. Kebijakan jerman untuk meningkatkan energi anginnya hingga tahun 2019, membuatnya harus menggelontorkan dana sebesar 1,1 milyar USD. Namun apa nyatanya ? Jerman masih bergantung pada batubara yang kotor. Keaadan cuaca lah yang mengharuskan Jerman untuk tetap bergantug pada batubara. 2016 merupakan masa yang suram ketika angin tak lagi berhembus sekencang tahun lalu.

Hal ini mengindikasikan bahwa energi angin bahkan solar sekalipun sebenarnya bukan hal yang sangat menjanjikan, tapi bukan berarti energi ini ditinggalkan begitu saja. Namun ini dapat menjadi sebuah kaca yang besar bagi Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan, terlebih telah terjadi beberapa kasus mangkraknya atau bahkan berhenti beroprasinya sebuah PLTB di Bantul dengan indikasi kekurangan angin.

Bilah-bilah besar sedang berusaha dibangun di dataran Sulawesi yang katanya memiliki potensi angin diatas rata-rata wilayah lain. Jika ditinjau dari letak geografisnya, sebagian wilayah Sulawesi dihembus angin dengan kecepatan diatas 18 knot, kondisi yang cukup ideal untuk PLTB dibandingkan daerah Bantul. Namun apakah kecepatan angin itu mampu menggerakkan bilah raksasa yang di impor dari dataran Eropa ?

Sumber : http://indonesia.windprospecting.com/
Sumber : http://indonesia.windprospecting.com/

Pada prinsipnya, energi angin yang dikonversikan menjadi listrik ini memanfaatkan berputarnya turbin yang terhubung dengan generator. Tidak seperti energi hidro pada PLTA yang kebanyakan memiliki suplai air yang sustain,terutama PLTMH yang dibangun dengan sumber mata air pegunungan, PLTB tidak dapat diprediksi yang berimbas pada fluktuasi energi yang dihasilkan. Dengan kata lain, energi dari angin bisa turun drastis secara tiba-tiba padahal kebutuhan energi terbilang konstan bahkan terus meningkat.

Tantangan lain yang menjadi sorotan dari PLTB yaitu gangguan yang dihasilkan dari suara bising serta ancaman bagi hewan udara yang melintasinya seperti kelelawar dan burung. Pembangunan PLTA tidak hanya di darat, namun juga di laut lepas yang anginnya lebih kencang. Namun tidak semudah yang dibayangkan, pembangunannya menelan biaya yang begitu besar dengan hambatan sistem transmisi yang jauh dari pengguna.

GE-turbine.gif
GE-turbine.gif

Sumber : GE
Berkaca dari keadaan yang terjadi pada PLTB di Bantul, pembuatan bilah atau baling-baling raksasa dari PLTB sebetulnya bukan hal yang sangat prospek di negara kita. Berbeda dengan dataran Eropa yang lebih mendapatkan pusaran angin karena iklimnya yang subtropis.

Letak geografis Indonesia yang kurang proporsional sebagai kebun kincir, seharusnya lebih difokuskan pada penelitian dan pengembangannya agar pembangunannya lebih efisien dan tidak sekedar membuang-buang anggaran. Misalnya yang dilakukan oleh Pusat Studi dan Pengembangan Energi Terbarukan di Ciheras, Jawa Barat. Tanah tandus ini telah disulap oleh Ricky Elson yang meninggalkan karirnya sebagai insinyur di Jepang untuk membangun Indonesia. Teknologi dan patennya berupa optimasi kincir angin, seharusnya menjadi fokus untuk saat ini. Dengan hasil patennya, bilah-bilah yang tadinya baru berputar dengan kecepatan angin tertentu dapat berputar dengan hembusan sekecil apapun. Hal ini disebabkan oleh coggingless yang berhasil ditemukan oleh Ricky Elson selama dia bekerja di Jepang. Jika anda pernah memutar roda tamiya, rasanya seakan ada yang menghambat perputarannya sehingga berbunyi “tek tek tek”. Itulah yang dinamakan coggingyang menghambat perputaran turbin angin, terlebih pada turbin-turbin raksasa. Selain itu, Ricky Elson juga menemukan teknologi furling yang dikemas dalam bentuk kontrol mekanik pada belakang turbin. Teknologi ini sebagai pengaman dari hembusan angin kencang yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Banyak kejadian hancurnya turbin angin raksasa karena terhempas oleh angin sedangkan turbinnya tidak sanggup menahan energi tersebut. Dengan furling ini, kincir yang dikembangkan di Ciheras seakan bergoyang atau menarik sambil berputar menyesuaikan arah datangnya angin. Inilah yang membuat kincir angin di sana disebut dengan Penari Langit.

Capture.PNG
Capture.PNG

Site Ciheras
Bukan hanya sekedar mulai membangun pusat penelitian, Ricky Elson telah membangun Penari Langit sebanyak 20 kincir di Sumba sehingga berhasil menerangi 3 Desa yang tidak tersentuh oleh PLN. Ambisi pemerintah untuk mendapatkan 50 MW dari PLTB Bantul kandas setelah setahun beroprasi, teknologi yang digunakan belum cukup mumpuni untuk menghadapi kenyataan bahwa angin tidak selamanya berhembus dengan kecepatan yang stabil. Pembangunan PLTB Sidrap yang dikejar oleh perusahaan swasta PT Binatek Energi Terbarukan dan dikerjakan oleh kontraktor UPC Renewables dengan baling-baling sepanjang 56 meter, menjanjikan suplai energi listrik sebesar 75 MW ke PLN.

65915_620.jpg
65915_620.jpg

PLTB Bantul

Capture.PNG
Capture.PNG

Lalu apa yang menjadi rahasia Swedia yang menyandang predikat negara dengan emisi CO2 paling sedikit ? Jawabannya adalah energi nuklir.

File_000.jpeg
File_000.jpeg

Pusat Penelitian Nuklir di Indonesia. Sumber : Dokumentasi pribadi
Dalam memerangi gas rumah kaca dari pembakaran energi fosil, hanya ada dua opsi pilihan, yaitu energi nuklir dan terbarukan. Banyak sumber mengatakan bahwa energi nuklir atau PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) disebut-sebut merupakan energi terbarukan, namun hal tersebut telah diklarifikasi oleh direktur IRENA (International Renewable Energy Agency) bahwa energi nuklik merupakan program energi yang panjang, rumit dan menghasilkan limbah berbahaya. Konferensi Parties di Maroko tahun 2016 bahkan tidak menyinggung sedikitpun tentang energi yang sangat besar ini.

Capture.PNG
Capture.PNG

Sumber : EIA

Cara kerja PLTN sama dengan PLT lain yang menggunakan boiler untuk memanaskan air dan mengubahnya menjadi steam. Nuklir atau bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar PLT ini. Reaksi fisi yang terjadi pada bahan radioaktif melepaskan begitu banyak energi panas sehingga sangat menggiurkan untuk dikonversikan menjadi energi listrik. Energi ini berasal dari belahan atom pada reaktor fisi. Bahan bakar yang umum digunakan berupa uranium baik isotop U-235 ataupun U-238 yang dikemas dalam bentuk pelet keramik. Sebuah pelet uranium dapat setara dengan energi 150 galon minyak. Reaksi fisi dari bahan redioaktif dapat berlangsung begitu lama dan terus menerus menghasilkan energi. Waktu paruh atau waktu yang dibutuhkan isotop uranium U-235 dan U-238 untuk bereaksi menjadi setengahnya membutuhkan waktu jutaan tahun bahkan hingga milyaran tahun.

uranium-235-chain-reaction.gif
uranium-235-chain-reaction.gif
how-nuclear-power-plant-works.png
how-nuclear-power-plant-works.png

Sumber : Duke Energy

Pemerintah Indonesia telah berupaya meningkatkan penggunaan energi terbarukan, salah satunya dengan upaya menekan regulasi-regulasi yang dulunya terbilang rumit menjadi lebih sederhana. Hal ini berimplikasi pada mudahnya investor untuk bergabung pada program pemerintah dengan membangun pembangkit listrik energi terbarukan, misalnya pada PLTB Sidrap yang menelan biaya investasi mencapai 2 triliun, dan berbagai teknologi energi terbarukan lainnya yang siap menyongsong Indonesia untuk menurunkan emisi CO2.

Artikel #14 dari #15HariCeritaEnergi

Sumber dan referensi : kompasiana.com (judul asli : Bilah Raksasa yang Bias dan Reaksi Abadi yang Dijauhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *